#CerpenJumat — Edisi 9: Suara dari Gaza
Abu Yasin dulu nelayan, dan ia tidak pernah lupa menyebutkannya pada siapa saja yang mau mendengar—meski sudah dua tahun ia tidak melaut, meski perahunya sekarang entah di mana, mungkin sudah jadi kayu bakar di tenda orang lain tanpa ia tahu.
Sekarang ia juru masak tidak resmi di dapur umum sektor tengah, terkenal karena bisa membuat apa saja terasa lebih enak dari seharusnya—roti bantuan yang keras ia rendam dan goreng ulang jadi camilan renyah, sup encer dari kaldu tulang ia bumbui dengan daun-daun liar yang hanya ia tahu letaknya.
Hari itu, ia punya misi baru: membuat kue ulang tahun.
“Untuk siapa?” tanya Abu Ramzi, berdiri di depan lapaknya dengan alis terangkat skeptis, ketika Abu Yasin datang menawar sekantong gula. “Aku tidak dengar ada yang ulang tahun minggu ini.”
“Untuk Noor,” jawab Abu Yasin singkat, seolah itu sudah menjelaskan semuanya.
Noor adalah anak perempuan berusia kira-kira tujuh tahun—kira-kira, karena tidak ada satu pun dokumen yang tersisa untuk memastikan umurnya, apalagi tanggal lahirnya. Orang tuanya sudah tiada sejak awal perang, dan sejak itu ia berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain di kamp, dirawat bergantian oleh siapa saja yang masih punya ruang di tenda dan hati mereka.
Ia anak yang pendiam, tidak pernah meminta apa-apa, bahkan ketika anak-anak lain ribut membicarakan ulang tahun mereka yang dirayakan seadanya dengan nyanyian dan sepotong roti manis, Noor hanya diam di pojok, tersenyum kecil seolah hal semacam itu memang bukan untuknya.
“Dia tidak tahu kapan ulang tahunnya,” kata Abu Yasin, suaranya melunak. “Aku tanya minggu lalu, dan dia bilang, ‘Mungkin aku memang tidak punya hari lahir, Paman.’ Anak sekecil itu, Abu Ramzi, bicara begitu seolah itu hal biasa.”
Abu Ramzi terdiam sejenak, tangannya berhenti menimbang gula. “Jadi kau mau buat hari untuknya.”
“Aku mau buat hari untuknya,” Abu Yasin mengulang, mantap.
Masalahnya, gula bukan barang yang mudah didapat, apalagi untuk sesuatu yang bukan kebutuhan pokok. Abu Ramzi hanya punya sedikit simpanan, dan jelas tidak akan memberikannya cuma-cuma.
“Aku butuh sesuatu untuk ditukar,” kata Abu Ramzi, nadanya kembali ke mode dagang yang biasa. “Kau tahu aturan mainnya.”
Abu Yasin terdiam lama. Ia hanya punya sedikit barang yang masih tersisa dari hidupnya sebelum kamp ini—dan satu-satunya yang punya nilai tukar cukup berarti adalah jaring ikan tua yang masih ia simpan, dilipat rapi di sudut tendanya, dibawanya ke mana pun ia pindah selama ini, seolah menyimpan janji diam-diam bahwa suatu hari laut akan terbuka lagi untuknya.
Ia tidak langsung menjawab. Tapi sore itu juga, ia kembali ke lapak Abu Ramzi membawa jaring itu, menyerahkannya dengan tangan yang sedikit ragu namun tak goyah.
“Ini jaringmu,” kata Abu Ramzi, terkejut. “Yang selalu kau bilang akan kau pakai lagi kalau laut sudah aman.”
“Laut bisa menunggu,” jawab Abu Yasin, suaranya agak parau. “Noor tidak bisa menunggu terus-terusan untuk tahu rasanya dirayakan.”
Membuat kue tanpa oven sungguhan ternyata jadi tantangan tersendiri. Abu Yasin membangun oven darurat dari kaleng besar bekas minyak, dilapisi tanah liat basah di sekelilingnya, dengan bara api kecil di bawah dan di atasnya—resep yang ia ingat dari ibunya puluhan tahun lalu, sebelum oven listrik jadi hal biasa di dapur-dapur yang kini tinggal puing.
Adonan dari tepung bantuan, gula hasil tukar jaring, dan telur yang ia pinjam dari tetangga dengan janji akan dibalas kapan-kapan, ia aduk dengan hati-hati, sesekali mencicipi dengan jari, mengoreksi rasa seadanya karena tidak ada ukuran pasti untuk apa pun di sini.
Hujan tiba-tiba turun menjelang sore, mengancam memadamkan bara api di bawah oven daruratnya. Abu Yasin buru-buru melindunginya dengan lembaran seng, tangannya terbakar sedikit karena tergesa, tapi ia tidak peduli, terus menjaga api itu tetap menyala sampai adonan benar-benar matang, aroma manis yang asing—nyaris terlupakan—mulai menyeruak di antara bau hujan dan asap kayu basah.
Malam itu, ketika kue sederhana itu akhirnya selesai—agak gosong di satu sisi, agak bantat di tengah, tapi utuh dan nyata—Abu Yasin mengundang anak-anak sektor tengah berkumpul di depan tendanya, termasuk Noor yang datang dengan wajah bingung, tidak tahu untuk apa ia dipanggil.
“Ini untukmu,” kata Abu Yasin, menyerahkan kue itu dengan satu batang kayu kecil tertancap di atasnya, ujungnya dicelup minyak dan dinyalakan jadi lilin darurat, nyalanya kecil tapi stabil di tengah angin malam yang mulai reda.
Noor menatap kue itu lama, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar antara ingin tersenyum dan ingin menangis sekaligus. “Tapi ini bukan hari ulang tahunku, Paman. Aku tidak tahu kapan—”
“Sekarang kau tahu,” potong Abu Yasin lembut. “Hari ini. Bukan karena Ibu bilang begitu waktu kau lahir, tapi karena kami yang bilang begitu sekarang. Kadang itu cukup, Nak.”
Anak-anak lain mulai bernyanyi seadanya, lagu yang mereka ingat dari sebelum perang, suaranya tidak serempak tapi penuh semangat, menggema di antara tenda-tenda yang mulai basah oleh sisa hujan. Noor meniup nyala kecil di atas kuenya, matanya terpejam sebentar—mungkin membuat harapan, mungkin hanya menikmati momen yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: menjadi pusat perhatian karena alasan yang baik.
Abu Yasin berdiri agak jauh, menyaksikan semuanya dengan tangan di dada, memikirkan jaringnya yang kini sudah berpindah tangan, mungkin dipakai orang lain untuk menukar kebutuhan mereka sendiri. Ia tidak menyesalinya sedikit pun.
“Laut akan selalu ada di sana menunggu,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, menatap langit malam yang mulai cerah setelah hujan. “Tapi Noor hanya akan jadi anak tujuh tahun—atau berapa pun umurnya sekarang—sekali ini saja.”
Minggu depan, setelah berbulan-bulan tersimpan rapat tanpa pernah dibuka, Sana akhirnya memutuskan membacakan surat ayah Yusuf—bukan sendirian, tapi di depan anak yang namanya tertulis di sampulnya.


